Elena adalah sosok gadis mungil dengan jemari kecil. Merah pipinya bak delima. Pantulan cahaya menyinari mata sipitnya. Bukan hanya paras, Elena menawan menusuk tulang. Berkorban banting tulang untuk anak semata wayangnya, Lilian. Elena memburu uang dengan peluh hasil pekerjaannya. Demi senyuman Lilian, hingga lengan terbakar pun, bukanlah masalah. Bukan sebuah pertanyaan, Viktor mencintai Elena.
Viktor sosok pria bungkuk dengan kaki jenjang bagai egrang. Kacamata sebagai cakrawala untuk menerawang. Tepi rambutnya menari gemulai di balik telinga. Manusia suka menyaksikan Viktor dengan ternganga. Bagaimana bisa manusia dari tanah liat menjadi sebatang Hyperion?
Elena menatap khusyuk secangkir kopi. Kopi pembawa hawa teduh mimpi. Diteguk hikmat kopi aroma mentholnya. Dapat ia rasakan aliran kopi berlomba di kerongkongan. Sambil melihat dengan heran pria diujung sana. Dengan rambut yang menari gemulai di balik telinganya. Namun, enggan berpaling dari kenikmatan seteguk kopi menthol.
“Elena elena, meski begitu aku mencintaimu.”
Suara lembut pria memanggil, terngiang nian di benaknya. Suara yang telah lama ia rindukan semenjak terpejam dan tak kunjung bangun setelah 3 tahun lamanya. Suaminya. Suami yang memutuskan mengakhiri hidupnya, menggantung layaknya kail pancing di samudra luas.
“Elena, aku hidup, aku lelah. Hina rasanya tidak di manusiakan oleh manusia. Perasaan tak diinginkan menjadi pembuluh darahku yang membunuhku pelan-pelan di setiap nafasku.
Elena elena, meski begitu aku mencintaimu.”
Diletakkannya sendok yang mendayuh memutari cangkir. Dengan indah mendayuh membawa arus kopi menthol. Oh, kopi menthol.
Wangi sedap pembangkit rasa rindu dan kenangan. Rasa manis dari ujung bibir suaminya. Hembusan harum menthol dari kedua lubang hidungnya. Menyampaikan surat cinta tanpa kata dari suami kepada Elena.
Kakinya beradu dengan aspal berjalan meninggalkan kedai kopi. Memutuskan untuk pergi dan mengelus kepala Lilian yang akan tertidur pulas di atas paha mungilnya. Namun, seperti biasa. Udara dingin membalut memeluk tubuh Elena. Bulu kuduknya berdiri mematung menakuti hati Elena. Ujung jemarinya gemetar tiada henti membuat gempa heboh sendiri. Tapi, tak ada satu pun suara hatinya untuk berpaling.
“Selalu begini. Hm, kedai kopi.”
Viktor menatap sendu jam di dinding kedai kopi. Merasakan pedihnya waktu berjalan dengan begitu cepat. Bergulir membalap kehidupan yang akan dirindukan setiap insan. Menyakitkan, menyaksikan beberapa manusia lupa cara menikmati waktu layaknya Viktor. Hanya sibuk berlalu lalang di jalanan ibukota lalu pulang berharap beban terbang. Padahal hanya dengan belaian aroma kopi, sudah termasuk menikmati waktu. “Sembari menatap Elena-ku.”
Kring!
Bunyi bel di pintu kedai kopi, mensuarakan ada kedatangan atau kepergian pelanggan. Membangunkan Viktor di ujung bangku kayu tua yang membunyikan suara reyot. Rambut di bahunya melayang-layang sambil meninggalkan kedai kopi. Rambut Elena. Menyusuri jalan jejak yang sama dengan Elena dari belakang, menikmati aroma tubuhnya dari jauh, dan mendengarkan pikiran juga suara hatinya.
Oh, Elena.
Seandainya kamu berpaling.
Dari dulu, Viktor selalu menjamah kehidupan Elena layaknya ia yang menjalankan. Memperhatikan setiap detail bagaimana ia meneguk kopi dengan anggun dan menawan. Menatap Elena yang selalu tertunduk berdoa atas kebahagiaan suaminya dan juga Lilian. Bagaimana ia mengecup sayang kening Lilian. Lebih sering kemana posisi tidur Elena. Mengintai Elena dari atas atap rumah tetangga Lilian menutupi sinar rembulan yang menembus jendela dengan tirai bunga sedikit terbuka milik Elena. Tapi, air mata Viktor, selalu meniti menelusuri wajah Viktor tiap kali ia melihat paras Elena. Menyadarkan ia seberapa penting menikmati waktu.
Elena pergi mencari rejeki untuk buah hati tersayangnya. Elena memutuskan mengambil jejakan langkah untuk berangkat daripada mengendari motor seperti biasa. Lagi, membeli secangkir plastik kopi menthol untuk memataharikan harinya. Tiga lembar sepuluh ribuan di berikan sebagai imbalan kopi menthol nikmat. Berjalan menyusuri jalanan, menatap langit biru luas. Berharap suaminya menatap penuh cinta kepadanya. Diteguklah kopi menthol sambil menertawakan pikiran akan suaminya. Dilihatnya jam di tangannya, detik seakan menjelajah lambat memutari enam puluh sekon. Menyaksikan beberapa orang sibuk menelepon. Entah kerabatnya, ibunya, temannya, atasannya, istrinya, kekasihnya atau selingkuhannya. Menyibakan rambut yang menjutai tidak rapi di sekitar bahunya. Menandakan waktunya potong rambut. Namun tidak ada waktu, Elena harus pergi menggali uang. “Untuk Lilian-ku.”
Hari itu Viktor hanya menunggu di atas lampu merah. Jongkok sambil menunggu kedatangan wanita penggemar kopi menthol yang selalu ia kagumi. Viktor menunggu waktu yang merangkak lambat melewati enam puluh sekon. Selama enam puluh sekon, ia membersihkan sayapnya dan memakai wangi-wangian menthol. Bersiap menemui wanita mentholnya itu. “Kamu datang ya?”
Suara hak berisik membuat gemuruh di jalanan. Apalagi Elena yang sedang terburu-buru walau sambil meneguk hikmat kopi menthol. Namun sebelum menyebrangi corak hitam putih di jalanan, ia merasakan “perasaan kedai kopi” yang hanya ia rasakan sepulang dari kedai kopi. Kali ini dengan bau menthol menyambut Elena di persimpangan.
“Kamu datang ya?”
Benaknya.
Lampu hijau merebut pandangan Elena, menandakan pejalan kaki boleh menyebrang. Diteguknya kopi menthol yang sudah mendiang menemani Elena di perjalanan. Seseorang melambaikan tangan kepada Elena dari balik mobil sedan mewah. Di tatapnya orang itu, bukanlah wajah familiar untuk memori otaknya. Namun, mimik mukanya memberikan rasa kepanikan sesaat kepada Elena karena juga lambaiannya tangannya yang begitu kilat. Elena menoleh terpagu. Menatap pria di atas lampu merah bersayap hitam sambil menangis tersedu menatap Elena. Sesekali ia menutup wajahnya dengan sayap hitam pekatnya. Ia memalingkan wajahnya menatap lurus. Elena menengok apa yang pria itu tatap dengan begitu lurus.
Tidak sempat.
Elena tidak sempat melihatnya.
Yang Elena tahu pria itu membawanya, memompong tubuh mungil Elena dengan kedua tangan raksasanya. Menyaksikan wajah Elena dengan seksama. Lalu mengusapkan ujung jarinya ke pipi merah Elena. “Kamu yang harum menthol itu ya?”
Viktor hanya bisa menjemput wanitanya itu dengan begitu lembut. Menariknya dari sela-sela mulutnya dan menggendongnya. Meninggalkan tubuh fana wanita mungil itu. Tubuh yang sudah hancur lebur tertabrak blangwir. Sudah lama ia menunggu Elena menemaninya di langit. Tapi tak ia sangka, begitu pahit dan pedih melihat tercinta terluka.
“Kamu yang harum menthol itu ya?”
“Iya, Elena. Aku datang. Temani aku melompati awan dan menyusuri langit.”
“Bagaimana dengan Lilian?”
“Oh, Elena. Lilian sudah bersama Kevin, belahan jiwamu. Kevin membawanya bersama saat ia menjutai di langit-langit atap.”
“Lilian tidak ikut, Lilian tidak pernah berhenti bernafas.”
“Ia berhenti, kamu yang tidak berhenti berjuang.”
Monday, July 20, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment