Saturday, July 11, 2015

Macan Dan Rembulan

Induk macan membawa tiga kehidupan,
Tiga kehidupan anaknya,
Namun,
Mengapa sang induk menyusui hanya dua?
Yang satu hanya disuap dengan lumpur tanah.


Matahari mengiri tiga kehidupan,
Tiga kehidupan yang bergantung padanya,
Lalu,
Bagaimana bisa matahari hanya menyinari dua?
Dengan dalih, "Kamu hanya rembulan!"


Anak macan meraung menangisi kehidupan,
Menangis tanpa air mata,
Meraung tanpa jeritan,
Sambil memakan pahitnya tanah basah,
Menjejakan kaki rapuhnya,
Ke jalan tanpa arah.


Rembulan bersinar redup,
Sinar yang didapat dari sisa pijar matahari,
Bersinar kuning sendu tertutup awan kelabu,
Menutupi keberadaannya,
Di balik selimut gelap motif bintang,
Berharap matahari tidak menyadari,
Rembulan hanya ingin kehangatan matahari.


Anak macan satu melompat, ditangkap.
Anak macan dua berguling, didekap.
Anak macan satu dua penuh cinta.
"Anak macan tiga hanyalah anak hina!"
"Anak macan tiga hanyalah aib belaka!"
"Anak macan tiga hanyalah bahan jenaka!"
Maupun tanpa sadar,
Induk menyebar bau lebih busuk dari mayat.


Venus, Venus,
Paras cantik berhati dengki,
Mulus bersih penuh rasa iri,
tanpa alasan menyimpan benci,
Layaknya Matahari
Mars, Mars,
Kadang hitam, kadang putih,
Kadang datang dengan sejumput kasih,
Lalu membakar semua benih,
Yang tertinggal hanya luka perih.


Anak macan tiga menatap rembulan,
Rembulan berwajah sabit.
Anak macan tiga merintih pada rembulan,
Rembulan berwajah purnama.
Anak macan tiga tertawa bahagia,
Rembulan menunduk tenggelam.
Mengorbankan dirinya,
Untuk membuat matahari kembali terbit.
Oh ya, Matahari,
Matahari yang membunuh,
Tiap detik akan tawa anak macan tiga.



-Rahma Aulia Indroputri, 19 tahun.

0 comments:

Post a Comment