Wednesday, December 30, 2015

Sebuah Analo(ele)gi

Dari pesisir, terdengar suara desir,
Mendayu menyisir pasir,
Menampar karang tanpa akhir,
Walau datang tanpa kurir, dihantam bakau dengan mutakhir.
Sungguh, pantai saat itu sedang luka dan terkilir.

Berlari, menerjang rimba tanpa arah,
Hanya mendung tertatap saat mengadah,
Kilat menyambar penuh amarah, penuh gairah,
Turun hujan, tanah basah,
Meski begitu, pantai tetaplah gelisah,
Sungguh, rimba saat itu sangatlah gundah.

Lesu lunglai, menyusuri jalan setapak,
Aspal diukir pedih oleh retak,
Batang pohon hancur oleh kapak,
Menderu sedih berteriak, tubuhku tergeletak
Mataku menangis namun terbelalak,
Berlari menerjang berteriak serak,
Dengan doa dapat bersua merak,
Sungguh, aku si penyusur aspal seperti tertusuk landak

Ku hantamkan kepalaku berulang kali ke ujung tebing,
Darahku mengalir ke bibirku yang diam tidak bergeming,
Ku ayunkan tanganku ke ujung duri,
Menikmati tusukan yang menembus jari,
Semua yang kulakukan sungguh bodoh,
Kenangan indahku pelan pelan hancur bagai rumah yg kian roboh,
Aku berharap merasakan kembali,
Merasakan sakit ataupun senang hati,
Tanpa harus berpura-pura lagi dan lagi,
Aku hanya ingin pulang ke rumahku lagi,
Aku hanya ingin tawa tulusku lagi,
Sungguh, aku hanya ingin merasakannya lagi.

Ratu lebah itu buta akan kuasa,
Bagaimana tidak, anak lebah hanyalah di anggap budak saja,
Tapi tidak dengan dua anak emasnya,
Namun ketika ratu lengser dari singgasana,
Ia memeluk anak busuknya seraya berkata,
"Jangan tinggalkan bunda"

Omong kosong.
Layaknya akhir yang bahagia.
Ku katakan sekali lagi.
OMONG KOSONG.
Saya membenci semua akhir bahagia.
Hanya memberikan harapan hampa.
O M O N G  K O S O N G.
Sudah sekian lama, hati saya kian terluka,
Saya lebih membuang waktu saya dengan tawa pura-pura,
Namun sangat tulus jika bersama kolega,
Saat kolega telah beranjak?
Saya hanya bisa mengutuk diri saya di tempat saya berpijak.
Sungguh, analogi ini bukanlah tentang alam ataupun setitik lebah.
Telusurilah,
Maka kamu akan menemukan bahwa kamu sedang di hati saya.

Friday, December 18, 2015

IN A GALAXY FAR FAR AWAY (CAUTION! SOPILER!)

assalamualaikum dan GOOOOOOD MOOOORNIIIINGGGGG!

Huah such a lovely saturday's morning! y'kno why? Karena akhirnya pada pukul 9 bisa kembali melihat senyuman mentari yang selama 4 hari ini doi cuma tersipu malu di balik awan~~~

In this part of the post you'll read..... **nadalisteningsection** curhatan saya tentang hari Jumat kemaren tepatnya tanggal 18 Desember 2015 yang berarti adalah..... KEMBALINYA STAR WARS DENGAN SERIES KE 7! KYAAAAA!!!!

I've been dreaming for that moment!

Jadi ceritanya pas keluar teasernya, gue tdnya mau nonton sama 2 temen gue, tapi berhubung ada kendala dan sistem operasional lagi ada gangguan jd gajadi deh (???) so I asked.... actually insisted.... Wirra untuk menemani gue nonton maupun dia gak suka muahahaha. Awalnya udah berencana buat nonton gt kan di imax gancit atau gading but suddenly wild platinum screen appeared!!!! So on Thursday, I was walking around the mall with my man, talking about how excited I am for Star Wars' premiere for public. Idk where that idea came from, I decided to go to Platinum Screen with him. Seeing no Star Wars' poster at the coming soon or now showing part, I was hopeless. And suddenly (again) wild little announcement appeared!

"Untuk pemesanan tiket Star Wars The Force Awakening dapat dilakukan hari ini yang akan di tayangkan pada 18 Desember 2015 - 21 Desember 2015"

CAN YOU IMAGINE HOW EXCITED I WAS?!

Jadi gue jingkrak2 gak jelas, bahkan sampe saat gue mesen tiket. Gue juga bisa liat mba-mba penjaga tiket agak senyum2 ikut merasakan kebahagiaan yg gue rasakan. Pulang-pulang gue pamer dong ke kedua temen omdo gue.... hahahaha dan misi sukses untuk membawa pulang tiket bersama rasa iri mereka **evillaugh**

Saat besoknya dan udah di cinemanya di situlah.... gue.... BAHAGIA TIDAK ADA OBAT+DEDEGAN! BAHKAN dengan liat "a long time ago in a galxy far, far away...." itu udah nyengir! di tambah opening song dengan prolognya "JENG JENG JENG JEEEEEENG JENG! JENG JENG JENG JEEEEEEENG JENG! JEJEJEJEEEEEEEENGGGGG!" it made me chills! Almost crying tho'!   Apalagi joke tentang Millenium Falcon itu seonggok rongsokan gak lepas! Kebodohan C-3P0 gak ilang! DAAAAAAAN TETAP DI SELINGI SAMA AA DARTH VADER KU KYAAAA<3 Ternyata gue dan Kylo Ren punya kesamaan yaitu sama sama menyukai Vader.... secara berlebihan padahal villain wkwkwk dan bayangkan perasaan gue saat melihat muka asli Kylo Ren.... masyallah bikin pengen nge islamin abang Kylo nya! **salahfokus** But it was sad too because Han Solo was gone... ALL HE WANTED ONLY BROUGHT YOU HOME YOU LITTLE SCUM, KYLO! (you're still cute anyway). Padahal gue juga ngarep tuh pas Han Solo pelukan sama Leia mereka bakal bilang scene terkenal mereka "I love you" "I know"-nya. But they didn't. BB-8 juga ternyata cute banget pen gua culik bgt ya ampun hikz pen nonton lagi jdnya :""""(


Euphoria gue nonton bahkan belum ilang sampe detik ini juga! Opening song, suara laser dan saber, tangisan Chewie, bahkan suara R2-D2 yang bangkit lagi!!!!!!! HUAAAAHHHHHHHH!!!




Dan setelah gue baca ulang ternyata the number of capslock words are too damn high ya-____- wkwkwk maklumlah ini lg fangirl-ing. Yaudah segitu aja ceritanya kali aja bakal jd penasaran nonton another betrayal between father and son's movie ini :3



BHAY
XOXO

Monday, July 20, 2015

Seteguk Kopi Menthol

Elena adalah sosok gadis mungil dengan jemari kecil. Merah pipinya bak delima. Pantulan cahaya menyinari mata sipitnya. Bukan hanya paras, Elena menawan menusuk tulang. Berkorban banting tulang untuk anak semata wayangnya, Lilian. Elena memburu uang dengan peluh hasil pekerjaannya. Demi senyuman Lilian, hingga lengan terbakar pun, bukanlah masalah. Bukan sebuah pertanyaan, Viktor mencintai Elena.


Viktor sosok pria bungkuk dengan kaki jenjang bagai egrang. Kacamata sebagai cakrawala untuk menerawang. Tepi rambutnya menari gemulai di balik telinga. Manusia suka menyaksikan Viktor dengan ternganga. Bagaimana bisa manusia dari tanah liat menjadi sebatang Hyperion?


Elena menatap khusyuk secangkir kopi. Kopi pembawa hawa teduh mimpi. Diteguk hikmat kopi aroma mentholnya. Dapat ia rasakan aliran kopi berlomba di kerongkongan. Sambil melihat dengan heran pria diujung sana. Dengan rambut yang menari gemulai di balik telinganya. Namun, enggan berpaling dari kenikmatan seteguk kopi menthol.


“Elena elena, meski begitu aku mencintaimu.”
Suara lembut pria memanggil, terngiang nian di benaknya. Suara yang telah lama ia rindukan semenjak terpejam dan tak kunjung bangun setelah 3 tahun lamanya. Suaminya. Suami yang memutuskan mengakhiri hidupnya, menggantung layaknya kail pancing di samudra luas.


“Elena, aku hidup, aku lelah. Hina rasanya tidak di manusiakan oleh manusia. Perasaan tak diinginkan menjadi pembuluh darahku yang membunuhku pelan-pelan di setiap nafasku.
Elena elena, meski begitu aku mencintaimu.”


Diletakkannya sendok yang mendayuh memutari cangkir. Dengan indah mendayuh membawa arus kopi menthol. Oh, kopi menthol.
Wangi sedap pembangkit rasa rindu dan kenangan. Rasa manis dari ujung bibir suaminya. Hembusan harum menthol dari kedua lubang hidungnya. Menyampaikan surat cinta tanpa kata dari suami kepada Elena.


Kakinya beradu dengan aspal berjalan meninggalkan kedai kopi. Memutuskan untuk pergi dan mengelus kepala Lilian yang akan tertidur pulas di atas paha mungilnya. Namun, seperti biasa. Udara dingin membalut memeluk tubuh Elena. Bulu kuduknya berdiri mematung menakuti hati Elena. Ujung jemarinya gemetar tiada henti membuat gempa heboh sendiri. Tapi, tak ada satu pun suara hatinya untuk berpaling.


“Selalu begini. Hm, kedai kopi.”


Viktor menatap sendu jam di dinding kedai kopi. Merasakan pedihnya waktu berjalan dengan begitu cepat. Bergulir membalap kehidupan yang akan dirindukan setiap insan. Menyakitkan, menyaksikan beberapa manusia lupa cara menikmati waktu layaknya Viktor. Hanya sibuk berlalu lalang di jalanan ibukota lalu pulang berharap beban terbang. Padahal hanya dengan belaian aroma kopi, sudah termasuk menikmati waktu. “Sembari menatap Elena-ku.”


Kring!


Bunyi bel di pintu kedai kopi, mensuarakan ada kedatangan atau kepergian pelanggan. Membangunkan Viktor di ujung bangku kayu tua yang membunyikan suara reyot. Rambut di bahunya melayang-layang sambil meninggalkan kedai kopi. Rambut Elena. Menyusuri jalan jejak yang sama dengan Elena dari belakang, menikmati aroma tubuhnya dari jauh, dan mendengarkan pikiran juga suara hatinya.


Oh, Elena.
Seandainya kamu berpaling.



Dari dulu, Viktor selalu menjamah kehidupan Elena layaknya ia yang menjalankan. Memperhatikan setiap detail bagaimana ia meneguk kopi dengan anggun dan menawan. Menatap Elena yang selalu tertunduk berdoa atas kebahagiaan suaminya dan juga Lilian. Bagaimana ia mengecup sayang kening Lilian. Lebih sering kemana posisi tidur Elena. Mengintai Elena dari atas atap rumah tetangga Lilian menutupi sinar rembulan yang menembus jendela dengan tirai bunga sedikit terbuka milik Elena. Tapi, air mata Viktor, selalu meniti menelusuri wajah Viktor tiap kali ia melihat paras Elena. Menyadarkan ia seberapa penting menikmati waktu.


Elena pergi mencari rejeki untuk buah hati tersayangnya. Elena memutuskan mengambil jejakan langkah untuk berangkat daripada mengendari motor seperti biasa. Lagi, membeli secangkir plastik kopi menthol untuk memataharikan harinya. Tiga lembar sepuluh ribuan di berikan sebagai imbalan kopi menthol nikmat. Berjalan menyusuri jalanan, menatap langit biru luas. Berharap suaminya menatap penuh cinta kepadanya. Diteguklah kopi menthol sambil menertawakan pikiran akan suaminya. Dilihatnya jam di tangannya, detik seakan menjelajah lambat memutari enam puluh sekon. Menyaksikan beberapa orang sibuk menelepon. Entah kerabatnya, ibunya, temannya, atasannya, istrinya, kekasihnya atau selingkuhannya. Menyibakan rambut yang menjutai tidak rapi di sekitar bahunya. Menandakan waktunya potong rambut. Namun tidak ada waktu, Elena harus pergi menggali uang. “Untuk Lilian-ku.”


Hari itu Viktor hanya menunggu di atas lampu merah. Jongkok sambil menunggu kedatangan wanita penggemar kopi menthol yang selalu ia kagumi. Viktor menunggu waktu yang merangkak lambat melewati enam puluh sekon. Selama enam puluh sekon, ia membersihkan sayapnya dan memakai wangi-wangian menthol. Bersiap menemui wanita mentholnya itu. “Kamu datang ya?”


Suara hak berisik membuat gemuruh di jalanan. Apalagi Elena yang sedang terburu-buru walau sambil meneguk hikmat kopi menthol. Namun sebelum menyebrangi corak hitam putih di jalanan, ia merasakan “perasaan kedai kopi” yang hanya ia rasakan sepulang dari kedai kopi. Kali ini dengan bau menthol menyambut Elena di persimpangan.
“Kamu datang ya?”
Benaknya.


Lampu hijau merebut pandangan Elena, menandakan pejalan kaki boleh menyebrang. Diteguknya kopi menthol yang sudah mendiang menemani Elena di perjalanan. Seseorang melambaikan tangan kepada Elena dari balik mobil sedan mewah. Di tatapnya orang itu, bukanlah wajah familiar untuk memori otaknya. Namun, mimik mukanya memberikan rasa kepanikan sesaat kepada Elena karena juga lambaiannya tangannya yang begitu kilat. Elena menoleh terpagu. Menatap pria di atas lampu merah bersayap hitam sambil menangis tersedu menatap Elena. Sesekali ia menutup wajahnya dengan sayap hitam pekatnya. Ia memalingkan wajahnya menatap lurus. Elena menengok apa yang pria itu tatap dengan begitu lurus.


Tidak sempat.
Elena tidak sempat melihatnya.


Yang Elena tahu pria itu membawanya, memompong tubuh mungil Elena dengan kedua tangan raksasanya. Menyaksikan wajah Elena dengan seksama. Lalu mengusapkan ujung jarinya ke pipi merah Elena. “Kamu yang harum menthol itu ya?”


Viktor hanya bisa menjemput wanitanya itu dengan begitu lembut. Menariknya dari sela-sela mulutnya dan menggendongnya. Meninggalkan tubuh fana wanita mungil itu. Tubuh yang sudah hancur lebur tertabrak blangwir. Sudah lama ia menunggu Elena menemaninya di langit. Tapi tak ia sangka, begitu pahit dan pedih melihat tercinta terluka.


“Kamu yang harum menthol itu ya?”
“Iya, Elena. Aku datang. Temani aku melompati awan dan menyusuri langit.”
“Bagaimana dengan Lilian?”
“Oh, Elena. Lilian sudah bersama Kevin, belahan jiwamu. Kevin membawanya bersama saat ia menjutai di langit-langit atap.”
“Lilian tidak ikut, Lilian tidak pernah berhenti bernafas.”
“Ia berhenti, kamu yang tidak berhenti berjuang.”

Saturday, July 11, 2015

Macan Dan Rembulan

Induk macan membawa tiga kehidupan,
Tiga kehidupan anaknya,
Namun,
Mengapa sang induk menyusui hanya dua?
Yang satu hanya disuap dengan lumpur tanah.


Matahari mengiri tiga kehidupan,
Tiga kehidupan yang bergantung padanya,
Lalu,
Bagaimana bisa matahari hanya menyinari dua?
Dengan dalih, "Kamu hanya rembulan!"


Anak macan meraung menangisi kehidupan,
Menangis tanpa air mata,
Meraung tanpa jeritan,
Sambil memakan pahitnya tanah basah,
Menjejakan kaki rapuhnya,
Ke jalan tanpa arah.


Rembulan bersinar redup,
Sinar yang didapat dari sisa pijar matahari,
Bersinar kuning sendu tertutup awan kelabu,
Menutupi keberadaannya,
Di balik selimut gelap motif bintang,
Berharap matahari tidak menyadari,
Rembulan hanya ingin kehangatan matahari.


Anak macan satu melompat, ditangkap.
Anak macan dua berguling, didekap.
Anak macan satu dua penuh cinta.
"Anak macan tiga hanyalah anak hina!"
"Anak macan tiga hanyalah aib belaka!"
"Anak macan tiga hanyalah bahan jenaka!"
Maupun tanpa sadar,
Induk menyebar bau lebih busuk dari mayat.


Venus, Venus,
Paras cantik berhati dengki,
Mulus bersih penuh rasa iri,
tanpa alasan menyimpan benci,
Layaknya Matahari
Mars, Mars,
Kadang hitam, kadang putih,
Kadang datang dengan sejumput kasih,
Lalu membakar semua benih,
Yang tertinggal hanya luka perih.


Anak macan tiga menatap rembulan,
Rembulan berwajah sabit.
Anak macan tiga merintih pada rembulan,
Rembulan berwajah purnama.
Anak macan tiga tertawa bahagia,
Rembulan menunduk tenggelam.
Mengorbankan dirinya,
Untuk membuat matahari kembali terbit.
Oh ya, Matahari,
Matahari yang membunuh,
Tiap detik akan tawa anak macan tiga.



-Rahma Aulia Indroputri, 19 tahun.

Monday, April 6, 2015

First Thing First, but Seventh Furious, Baby!

Assalamualaikum!

First post of my blog. Ya ampun norak bgt gitu ya baru tertarik sama blog hahaha bukan tipe yang suka nulis sih, tp di rekomendasiin (baca:dihasut) sama orang orang terdekat yang katanya care gitu hm~

Sebenernya, the purpose I made my own blog is buat portofolio fotografi dan gambar. Tapi karna masih pertama, I’d like to tell you about me, myself and I.

Biasa di panggil Rahma Depp, Rahma Elwin Haner, atau juga Ubuy. Lahir, tumbuh dan dibesarkan di Depok dengan kombinasi darah dan pula daging dari wanita suku Minang dan pria half-blood keraton Solo. Salah satu dan merupakan urutan kedua dari Indroputri’s sisterhood. Sangat, amat, banget menyukai sashimi salmon dan kebab. Saya mengutuk semua hal yang sejenis, sebangsa, setanah, seair dengan CICAK ataupun KODOK. Tapi pasti Tuhan punya alasan kenapa makhluk-makhluk itu di ciptakan, mengurangi nyamuk probably. Memasak dan menciptakan makanan yang akan di cintai orang banyak adalah suatu kesenangan tersendiri bagi saya. Menangkap refleksi dari lensa ke cermin kamera adalah suatu hal yang tidak bisa saya lepaskan. Saya suka rock 'n roll, post-hardcore, punk goes pop, metal dan temen2nya deh. Utama dan terutama, The Beatles, Eagle, Queen , Avenged Sevenfold, Memphis May Fire adalah playlist nomer satu. Suka banget sama tote bag without any reasons. Pencinta dan pencandu kucing sampe-sampe Canon, Boboh dan Garfield (nama kucing, korban aniyaya) suka takut kalo ketemu Rahma Aulia Indroputri huahuahahahaha. Suka gigit, suka gemes, suka bayi!

Terus terus apa hubungannya buy sama “seventh furious”?

Jadi ceritanya, hari ini abis menikmati layar tancap dengan sofa merah empuk dan ditemani pria anta sejagad raya (Sebut saja Mawar). Di layar tancap itu, termainkan sebuah film “Fast and Furious 7”. Baru ampe apaya namanya gatau tuh yang awal2 pelem ada nama2nya, dan tertulis Dwayne Johnson, langsung semangat. Eh. Ternyata. Cuma di awal sama di akhir muncul itu babang. Beside of that sexy creature, pelemnya itu banyak darah, kaca pecah, gedung jatoh, mobil mahal ancur, mobil terbang, dan angka biner. Terlalu banyak ke impossibro-an di film ini, yak tp namanya juga pelem. Keren mah teuteuuuupppp. NAH. Yang bikin gue ampe curhat itu adalah......... Ending's monologue.

“I used to say I live my life a quarter mile at a time and I think that's why we were brothers- because you did, too. No matter where you are, whether it's a quarter mile away or half way across the world. The most important thing in life, will always be the people in this room. Salute mi familia. You'll always be with me... And you'll always be my brother."

.
.
.
.
.


Mungkin udah segitu aja hal gak penting tentang saya. Terimakasih sudah meluangkan waktu ke blog saya and do NOT forget to watch Fast and Furious 7! Xoxo