Bermula dengan kayu sebagai dindingnya,
Dan bambu sebagai alasnya.
Bisakah kamu lihat betapa angin yang kencang selalu menerpa rumah itu? Rumah itu selalu hanya menertawakan usaha angin yang selalu saja ingin menghancurkannya yang telah dibangun penuh dengan jerih payah bahkan air mata. Ia berhenti tertawa hingga saat satu jendelanya membuka begitu saja, sehingga menghancurkan tataan sederhana rumah itu. Depresi, nama jendela itu. Tidak pernah dikarenakan rumah yang lebih mewah dengan kolam renangnya, ataupun atap rumahnya yang selalu bergoyang karena badai, membuat rumah meragukan betapa kokohnya ia. Entah mengapa jendela itu membuat keputusan yang menghancurkan dalamnya rumah.
Depresi.
Depresi.
Bahkan rumah tidak menyadari.
Jendela itu membuat rumah kian lama kian lemah. Rumah yang selama ini telah berdiri dengan kokoh rasanya akan hancur begitu saja jika ada angin yang menerpa. Seperti bom waktu, Rumah hanya menunggu dirinya jatuh ke jurang di ujung bukit tempat ia berdiri selama ini. Padahal akan ada selalu Ia yang akan melindungi Rumah dari kebrengsekan dunia.
0 comments:
Post a Comment