Wednesday, May 10, 2017

Panji Abadi Hidupku.

Lagi lagi, aku terluka.
Hatiku bergemuruh.
Murkaku gaduh.
Bagaimana rasanya melihat jati dirimu itu dibunuh?
Aku geram dan kian rusuh.
Saat kamu mengaku kamu adalah langit namun kamu mengutuk lembahyung.
Saat kamu hanya menari namun kamu seharusnya berlari.
Kemunafikan seakan melumat habis harga dirimu.
Dan kamu hanya tersenyum diam terpatri.

Aku benci saat kamu memaki apa yang aku percayai.
Aku bukan pula umat yang disiplin ataupun santri.
Aku hanyalah A K U.
Yang bangga akan apa yang aku percayai.
Aku bangga akan 6 pilar kepercayaan yang tidak akan pernah aku khianati.
Aku mencintai 5 pasak yang selalu setia menopang tujuan hidupku yang tidak abadi.
Namun aku tidak akan pernah menusuk tajam pola pikirku agar pedoman hidup orang lain itu mati.

Sekalipun, aku tidak pernah meragukan pedoman hidupku.
Sekalipun, aku tidak akan pernah mengusung atas nama kemanusiaan dan menginjak habis pedoman hidupku.
Sekalipun, aku tidak sudi jika kamu tetap mengatakan hanyalah bualan isi pedoman hidupku.

Aku adalah agamaku.
Kemanusiaanku sebatas agamaku.
Aku bukan apa-apa tanpa agamaku.
Kamu mati rasa karena politik yang sedang menderu.
Padahal, politik tidak mengajarkan tentang agamaku ataupun agamamu.
Tapi agamaku mengajarkan bagaimana kamu harus menjalani politik dengan tetap mengingat siapa yang menciptakanmu.
Tapi lagi-lagi, yang kamu teriakan adalah aku yang tidak bisa menerima perbedaan padahal nyatanya kamu yang belaga tuna rungu.


Yang selalu aku tanyakan adalah mengapa kamu ragu akan lembahyung-ku yaitu pedoman hidupku? Padahal kamu dalam satu langit yang sama denganku.

Yang tak pernah habis kupikir mengapa kamu hanya menari saat para kafir mengusung atas nama toleransi? Sudah sepantasnya dalam pedoman hidup kita, mereka di hukum mati.

Bukankah cukup sudah kamu elu-elukan toleransi?

Saat ditanyakan mana yang akan kamu pilih antara toleransi dan religi, mana yang akan kamu pilih?

Apa yang akan kamu pilih?


Apa yang akan kamu pilih?

Apa yang akan kamu pilih?

Toleransi, hanya sebatas membiarkan mereka bernafas dan beraksi.
Kamu, jangan mau mukamu itu di injak kaki dengan bokong toleransi.

Aku tidak pernah berkonfrontasi atas apa yang kamu percayai.
Tapi aku begitu terluka, bahwa saudara satu religi malah dibutakan toleransi dan mencaci kalimat indah takbir.

Seorang temanku yang bijak mengatakan padaku, "bertemu dengannya yang baru bisa merubah satu kota besar saja kamu langsung lelang agama, apa yang terjadi bila kamu bertemu Dajjal yang bisa membangkitkan seseorang dari kematian?"

Sudah pantas kamu ada dalam golongan mereka.
Maka aku akan katakan padamu,


"Bagiku agamaku,
Bagimu agamamu"

0 comments:

Post a Comment