Di blog kali ini, aku akan menceritakan makna keluarga dalam opiniku. Aku memang bukan ahli filsuf, hanya saja aku yakin dengan kalimat :
"Keluarga tidak semata-mata satu DNA dan satu garis keturunan. Kamu bisa menemui keluargamu saat kamu menemuinya dan kamu tahu kamu sudah 'pulang'"
Aku terlahir di dalam keluarga yang tidak bahagia namun tidak terpuruk. Dari aku hanya bisa menghisap ibu jari, aku sudah berkali-kali di tampar oleh kehidupan. Hingga duduk di bangku sekolah dasar aku selalu mencoba bahagia dan tidak memperdulikan apa-apa selain tertawa. Naif, polos, dan nakal adalah gambaran aku saat itu. Seolah-olah tidak ada yang terjadi di rumah. Namun, semuanya pasti ada masanya bukan?
Ibuku tidak pernah ada saat aku menerima raport pertamaku di SMP. Ibuku pun tidak pernah ada saat aku mengikuti ekskul pertamaku.
Ibuku pun tidak ada saat aku menjalani haid pertamaku.
Ibuku selalu tidak ada semenjak aku 12 tahun.
Tapi itu tidak membuatnya Ibu yang buruk kok.
Tepatnya saat duduk di bangku SMP, aku telah menemukan konsep kehidupan yang saya ingin ku jalani. Ibu seraya memberikanku kesedihan dan wangsit tentang konsep kehidupan dengan kepergiannya. Semuanya begitu bersamaan, aku yang nyaris 12 tahun saat itu tidak dapat mengatakan apa-apa, selain merasakan perasaan bersalah karena menurutinya untuk ikut Ujian Tengah Semester di kala nafas terakhirnya.
"Anak Mama harus lebih pintar dan cerdik daripada Mama.
Agar kamu dapat memberitahukan isi dunia pada Mama.
Adiknya Kaka harus lebih kuat dan lebih cekatan daripada Kaka.
Agar kamu dapat melindunginya dari kejamnya dunia."
Orang pergi dan aku harus tetap menjalani. Mau bagaimana lagi? Aku bertekad untuk tetap tidak mengecewakannya walau ia tidak dapat menjemputku sembari makan bubur di kantin sekolah.
Ayahku lah yang membuat aku menyukai Matematika. Sosoknya yang jarang di rumah, membuat aku mengidolakannya. Bayangkan, orang yang tidak pernah kamu temui, lalu datang membawa seonggok ilmu yang kebanyakan dibenci orang-orang dan membuatku menyukainya? Saat aku TK, aku pertama kali bertemu dan mengenal seorang pria yang menjemputku dengan mobil. Rapi dan harum. "Tampan" Bisik ibu-ibu yg ada di dekatku. Aku menanyakan pada ibuku tentang siapa om-om ini? Ibuku tertawa meringis mengatakan bahwa dia adalah ayahku. Aku menanyakan kembali, apakah ayah sama seperti Pak Guru? Ibu men-jitak kepalaku berkata "Sudah Mama bilang untuk menjadi lebih pintar dari Mama, kan?!"
Tidak berapa lama setelah aku membalut duka, ayahku datang ke rumah kebanggan ibuku yang sederhana. Ia menceritakan bahwa pekerjaannya membuat ia tidak dapat pulang. Aku dan kakaku hanya pura-pura tidak tahu dan menyetujui pembicaraan. Lama kelamaan percakapan menyudut ke pernikahan. Aku hanya begitu heran sedangkan kakaku kecewa dan mengamuk besar-besaran. Aku tertegun dengan pikiran melayang. Lagi-lagi ayahku membangun pola pikir untukku.
"Aku tidak mempercayai pria"
Wanita itu tidak cantik, tidak pula baik. Aku merasa seperti hidup dalam buku dongeng Bawang Merah Bawang Putih. Bahkan, aku merasa Bawang Putih sangat lemah karena menangis dan bersedih hanya karena diperlakukan seperti itu. Bagaimana bila ia jadi aku? Alih-alih menangis, aku tidak pernah menyetujui dan mengakui bahwa ia adalah penerus cinta pertamaku, Ibu. Aku menjadi tidak pernah nyaman untuk pulang. Aku seperti tidak memiliki tempat tujuan untuk berteduh. Namun dengan kedatangan wanita itu, aku dan kakaku jadi mengerti apa arti persaudaraan.
Lingkungan SMA membuatku menemukan teman-teman baru. Tapi aku belum menemukan sahabat yang dapat mengerti apa arti hidup bagiku dan menghargai pendapatku. Butuh waktu untuk menemukan manusia semacam itu sampai aku naik ke kelas dua dan bermain di warung Ibu Semar. Aku menjadi memiliki motivasi kembali untuk bahagia. Kebanyakan dari mereka berjalan di sepatu yang sama denganku, maka kami hanya menertawakan kebrengsekan yang terjadi. Pulang larut, adalah keadaanku. Karena aku tidak pernah menyukai keadaan rumah. Orang-orang di rumah selalu mengucapkan hal yang tidak mereka mengerti dan mengatakan aku harus pulang. Mereka tidak mengerti bahwa aku sudah pulang. Aku pulang kepada mereka yang mengerti dan menganggapku sebagai adik perempuan mereka, sebagai kakak perempuan mereka, dan sebagai saudara perempuan mereka.
"Aku menemukan keluargaku. Aku pulang kepada mereka. Aku yang apatis, suatu saat akan mereka benci. Tidak apa, karena aku akan selalu menyayanginya. Hanya aku yang tahu seberapa besar aku menyayangi mereka."
Peralihan dari SMA ke perkuliahan, tentu membuatku banyak menghabiskan waktu di rumah. Di tempat aku sangat tidak menyukai bagaimana diriku berperilaku. Harus menjilat dan iya-iya saja. Ingin muntah. Aku yang merasa depresi akan beberapa hal lain yang tidak aku sebutkan di tulisan ini, mengidap insomnia hampir selama 6 bulan. Ragaku dan jiwaku yang lelah seperti mengibarkan bendera putih bentuk menyerah. Hingga obat tidur hanya dapat mengatasinya selama 2 minggu saja. Entah kenapa, tiba-tiba mereka datang layaknya antibiotik yang menyembukan flu berat.
Canon dan Boboh adalah nama mereka. Mereka begitu kurus, galak, dan kotor. Ayahku mendapati mereka tidak di urus oleh sebuah petshop. Ayahku yang kala itu melakukan penggusuran, membawa pulang makhluk-makhluk mungil itu. Beberapa sudah dibawa teman-temannya yang lain. Dengan ragu aku mendekati mereka, menyentuh mereka, dan membelai mereka. Mereka lari, dan menggigit. Aku juga mempertanyakan gumpalan apa yang ada di pasir tempat mereka buang air. Dokter hewan itu tertawa seraya berkata "Itu hanya air seni mereka." Aku memang menyukai hewan dari dulu, aku juga sangat membenci semua orang yang menyianyiakan hewan, atau memburu mereka secara liar. Tapi untuk memiliki sebuah peliharaan belum terbesit di pikiranku.
Hingga beberapa waktu, aku menyerah untuk merawat mereka yang selalu berkelahi dan pipis dimana-mana. Belum lagi di berikan ocehan pedas yang aku tidak butuhkan oleh wanita itu. Aku menyerah karena keadaan pola tidurku, karena wanita itu, dan karena hal lainnya. Air mataku di atas kasur itu menandakan keputus asaan ku yang membulatkan tekad untuk pergi dari sana. Seperti mengerti keadaanku, mereka datang, melompat ke atas kasurku, dan menjilat air mataku. Membelaikan kepalanya ke mataku, hidungku, tanganku, dan mengajakku bermain. Aku tertawa melihat Boboh menyodorkan kunciran untukku karena ia mengajakku bermain. Di rumah yang selalu sepi itu, di rumah dimana aku selalu sendiri kala pagi hingga sore hari, aku memeluk mereka seperti adikku dan anakku sendiri.
"Aku tahu mereka akan selalu menemaniku dan tidak membiarkanku sendiri untuk aku melakukakan hal-hal bodoh lagi."
Keluargaku. Iya, tulisan ini adalah tentang keluargaku yang tidak biasa. Aku menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangiku. Aku memiliki Ibu dari Ibu orang lain. Aku memiliki Ayah dari Ayah orang lain. Mereka menerimaku kapanpun di rumahnya layaknya aku memang seharusnya pulang ke sana.
Untuk keluargaku di luar sana, Terimakasih.
Atas semangat hidup dan kritisnya saran kalian.
Sungguh,
Terimakasih.
0 comments:
Post a Comment