Dari pesisir, terdengar suara desir,
Mendayu menyisir pasir,
Menampar karang tanpa akhir,
Walau datang tanpa kurir, dihantam bakau dengan mutakhir.
Sungguh, pantai saat itu sedang luka dan terkilir.
Berlari, menerjang rimba tanpa arah,
Hanya mendung tertatap saat mengadah,
Kilat menyambar penuh amarah, penuh gairah,
Turun hujan, tanah basah,
Meski begitu, pantai tetaplah gelisah,
Sungguh, rimba saat itu sangatlah gundah.
Lesu lunglai, menyusuri jalan setapak,
Aspal diukir pedih oleh retak,
Batang pohon hancur oleh kapak,
Menderu sedih berteriak, tubuhku tergeletak
Mataku menangis namun terbelalak,
Berlari menerjang berteriak serak,
Dengan doa dapat bersua merak,
Sungguh, aku si penyusur aspal seperti tertusuk landak
Ku hantamkan kepalaku berulang kali ke ujung tebing,
Darahku mengalir ke bibirku yang diam tidak bergeming,
Ku ayunkan tanganku ke ujung duri,
Menikmati tusukan yang menembus jari,
Semua yang kulakukan sungguh bodoh,
Kenangan indahku pelan pelan hancur bagai rumah yg kian roboh,
Aku berharap merasakan kembali,
Merasakan sakit ataupun senang hati,
Tanpa harus berpura-pura lagi dan lagi,
Aku hanya ingin pulang ke rumahku lagi,
Aku hanya ingin tawa tulusku lagi,
Sungguh, aku hanya ingin merasakannya lagi.
Ratu lebah itu buta akan kuasa,
Bagaimana tidak, anak lebah hanyalah di anggap budak saja,
Tapi tidak dengan dua anak emasnya,
Namun ketika ratu lengser dari singgasana,
Ia memeluk anak busuknya seraya berkata,
"Jangan tinggalkan bunda"
Omong kosong.
Layaknya akhir yang bahagia.
Ku katakan sekali lagi.
OMONG KOSONG.
Saya membenci semua akhir bahagia.
Hanya memberikan harapan hampa.
O M O N G K O S O N G.
Sudah sekian lama, hati saya kian terluka,
Saya lebih membuang waktu saya dengan tawa pura-pura,
Namun sangat tulus jika bersama kolega,
Saat kolega telah beranjak?
Saya hanya bisa mengutuk diri saya di tempat saya berpijak.
Sungguh, analogi ini bukanlah tentang alam ataupun setitik lebah.
Telusurilah,
Maka kamu akan menemukan bahwa kamu sedang di hati saya.
Mendayu menyisir pasir,
Menampar karang tanpa akhir,
Walau datang tanpa kurir, dihantam bakau dengan mutakhir.
Sungguh, pantai saat itu sedang luka dan terkilir.
Berlari, menerjang rimba tanpa arah,
Hanya mendung tertatap saat mengadah,
Kilat menyambar penuh amarah, penuh gairah,
Turun hujan, tanah basah,
Meski begitu, pantai tetaplah gelisah,
Sungguh, rimba saat itu sangatlah gundah.
Lesu lunglai, menyusuri jalan setapak,
Aspal diukir pedih oleh retak,
Batang pohon hancur oleh kapak,
Menderu sedih berteriak, tubuhku tergeletak
Mataku menangis namun terbelalak,
Berlari menerjang berteriak serak,
Dengan doa dapat bersua merak,
Sungguh, aku si penyusur aspal seperti tertusuk landak
Ku hantamkan kepalaku berulang kali ke ujung tebing,
Darahku mengalir ke bibirku yang diam tidak bergeming,
Ku ayunkan tanganku ke ujung duri,
Menikmati tusukan yang menembus jari,
Semua yang kulakukan sungguh bodoh,
Kenangan indahku pelan pelan hancur bagai rumah yg kian roboh,
Aku berharap merasakan kembali,
Merasakan sakit ataupun senang hati,
Tanpa harus berpura-pura lagi dan lagi,
Aku hanya ingin pulang ke rumahku lagi,
Aku hanya ingin tawa tulusku lagi,
Sungguh, aku hanya ingin merasakannya lagi.
Ratu lebah itu buta akan kuasa,
Bagaimana tidak, anak lebah hanyalah di anggap budak saja,
Tapi tidak dengan dua anak emasnya,
Namun ketika ratu lengser dari singgasana,
Ia memeluk anak busuknya seraya berkata,
"Jangan tinggalkan bunda"
Omong kosong.
Layaknya akhir yang bahagia.
Ku katakan sekali lagi.
OMONG KOSONG.
Saya membenci semua akhir bahagia.
Hanya memberikan harapan hampa.
O M O N G K O S O N G.
Sudah sekian lama, hati saya kian terluka,
Saya lebih membuang waktu saya dengan tawa pura-pura,
Namun sangat tulus jika bersama kolega,
Saat kolega telah beranjak?
Saya hanya bisa mengutuk diri saya di tempat saya berpijak.
Sungguh, analogi ini bukanlah tentang alam ataupun setitik lebah.
Telusurilah,
Maka kamu akan menemukan bahwa kamu sedang di hati saya.