Tuesday, October 3, 2017

Rumah 2x2

Tidakkah kamu lihat rumah sederhana itu?
Bermula dengan kayu sebagai dindingnya,
Dan bambu sebagai alasnya.
Bisakah kamu lihat betapa angin yang kencang selalu menerpa rumah itu? Rumah itu selalu hanya menertawakan usaha angin yang selalu saja ingin menghancurkannya yang telah dibangun penuh dengan jerih payah bahkan air mata. Ia berhenti tertawa hingga saat satu jendelanya membuka begitu saja, sehingga menghancurkan tataan sederhana rumah itu. Depresi, nama jendela itu. Tidak pernah dikarenakan rumah yang lebih mewah dengan kolam renangnya, ataupun atap rumahnya yang selalu bergoyang karena badai, membuat rumah meragukan betapa kokohnya ia. Entah mengapa jendela itu membuat keputusan yang menghancurkan dalamnya rumah.
Depresi.
Depresi.
Bahkan rumah tidak menyadari.
Jendela itu membuat rumah kian lama kian lemah. Rumah yang selama ini telah berdiri dengan kokoh rasanya akan hancur begitu saja jika ada angin yang menerpa. Seperti bom waktu, Rumah hanya menunggu dirinya jatuh ke jurang di ujung bukit tempat ia berdiri selama ini. Padahal akan ada selalu Ia yang akan melindungi Rumah dari kebrengsekan dunia.

Wednesday, May 10, 2017

Panji Abadi Hidupku.

Lagi lagi, aku terluka.
Hatiku bergemuruh.
Murkaku gaduh.
Bagaimana rasanya melihat jati dirimu itu dibunuh?
Aku geram dan kian rusuh.
Saat kamu mengaku kamu adalah langit namun kamu mengutuk lembahyung.
Saat kamu hanya menari namun kamu seharusnya berlari.
Kemunafikan seakan melumat habis harga dirimu.
Dan kamu hanya tersenyum diam terpatri.

Aku benci saat kamu memaki apa yang aku percayai.
Aku bukan pula umat yang disiplin ataupun santri.
Aku hanyalah A K U.
Yang bangga akan apa yang aku percayai.
Aku bangga akan 6 pilar kepercayaan yang tidak akan pernah aku khianati.
Aku mencintai 5 pasak yang selalu setia menopang tujuan hidupku yang tidak abadi.
Namun aku tidak akan pernah menusuk tajam pola pikirku agar pedoman hidup orang lain itu mati.

Sekalipun, aku tidak pernah meragukan pedoman hidupku.
Sekalipun, aku tidak akan pernah mengusung atas nama kemanusiaan dan menginjak habis pedoman hidupku.
Sekalipun, aku tidak sudi jika kamu tetap mengatakan hanyalah bualan isi pedoman hidupku.

Aku adalah agamaku.
Kemanusiaanku sebatas agamaku.
Aku bukan apa-apa tanpa agamaku.
Kamu mati rasa karena politik yang sedang menderu.
Padahal, politik tidak mengajarkan tentang agamaku ataupun agamamu.
Tapi agamaku mengajarkan bagaimana kamu harus menjalani politik dengan tetap mengingat siapa yang menciptakanmu.
Tapi lagi-lagi, yang kamu teriakan adalah aku yang tidak bisa menerima perbedaan padahal nyatanya kamu yang belaga tuna rungu.


Yang selalu aku tanyakan adalah mengapa kamu ragu akan lembahyung-ku yaitu pedoman hidupku? Padahal kamu dalam satu langit yang sama denganku.

Yang tak pernah habis kupikir mengapa kamu hanya menari saat para kafir mengusung atas nama toleransi? Sudah sepantasnya dalam pedoman hidup kita, mereka di hukum mati.

Bukankah cukup sudah kamu elu-elukan toleransi?

Saat ditanyakan mana yang akan kamu pilih antara toleransi dan religi, mana yang akan kamu pilih?

Apa yang akan kamu pilih?


Apa yang akan kamu pilih?

Apa yang akan kamu pilih?

Toleransi, hanya sebatas membiarkan mereka bernafas dan beraksi.
Kamu, jangan mau mukamu itu di injak kaki dengan bokong toleransi.

Aku tidak pernah berkonfrontasi atas apa yang kamu percayai.
Tapi aku begitu terluka, bahwa saudara satu religi malah dibutakan toleransi dan mencaci kalimat indah takbir.

Seorang temanku yang bijak mengatakan padaku, "bertemu dengannya yang baru bisa merubah satu kota besar saja kamu langsung lelang agama, apa yang terjadi bila kamu bertemu Dajjal yang bisa membangkitkan seseorang dari kematian?"

Sudah pantas kamu ada dalam golongan mereka.
Maka aku akan katakan padamu,


"Bagiku agamaku,
Bagimu agamamu"

Monday, April 10, 2017

Tidak Melulu "Garis Keturunan"

Di blog kali ini, aku akan menceritakan makna keluarga dalam opiniku. Aku memang bukan ahli filsuf, hanya saja aku yakin dengan kalimat :

"Keluarga tidak semata-mata satu DNA dan satu garis keturunan. Kamu bisa menemui keluargamu saat kamu menemuinya dan kamu tahu kamu sudah 'pulang'"

Aku terlahir di dalam keluarga yang tidak bahagia namun tidak terpuruk. Dari aku hanya bisa menghisap ibu jari, aku sudah berkali-kali di tampar oleh kehidupan. Hingga duduk di bangku sekolah dasar aku selalu mencoba bahagia dan tidak memperdulikan apa-apa selain tertawa. Naif, polos, dan nakal adalah gambaran aku saat itu. Seolah-olah tidak ada yang terjadi di rumah. Namun, semuanya pasti ada masanya bukan?

Ibuku tidak pernah ada saat aku menerima raport pertamaku di SMP. Ibuku pun tidak pernah ada saat aku mengikuti ekskul pertamaku.
Ibuku pun tidak ada saat aku menjalani haid pertamaku.
Ibuku selalu tidak ada semenjak aku 12 tahun.
Tapi itu tidak membuatnya Ibu yang buruk kok.

Tepatnya saat duduk di bangku SMP, aku telah menemukan konsep kehidupan yang saya ingin ku jalani. Ibu seraya memberikanku kesedihan dan wangsit tentang konsep kehidupan dengan kepergiannya. Semuanya begitu bersamaan, aku yang nyaris 12 tahun saat itu tidak dapat mengatakan apa-apa, selain merasakan perasaan bersalah karena menurutinya untuk ikut Ujian Tengah Semester di kala nafas terakhirnya.

"Anak Mama harus lebih pintar dan cerdik daripada Mama. 
Agar kamu dapat memberitahukan isi dunia pada Mama. 
Adiknya Kaka harus lebih kuat dan lebih cekatan daripada Kaka. 
Agar kamu dapat melindunginya dari kejamnya dunia." 

Orang pergi dan aku harus tetap menjalani. Mau bagaimana lagi? Aku bertekad untuk tetap tidak mengecewakannya walau ia tidak dapat menjemputku sembari makan bubur di kantin sekolah.

Ayahku lah yang membuat aku menyukai Matematika. Sosoknya yang jarang di rumah, membuat aku mengidolakannya. Bayangkan, orang yang tidak pernah kamu  temui, lalu datang membawa seonggok ilmu yang kebanyakan dibenci orang-orang dan membuatku menyukainya? Saat aku TK, aku pertama kali bertemu dan mengenal seorang pria yang menjemputku dengan mobil. Rapi dan harum. "Tampan" Bisik ibu-ibu yg ada di dekatku. Aku menanyakan pada ibuku tentang siapa om-om ini? Ibuku tertawa meringis mengatakan bahwa dia adalah ayahku. Aku menanyakan kembali, apakah ayah sama seperti Pak Guru? Ibu men-jitak kepalaku berkata "Sudah Mama bilang untuk menjadi lebih pintar dari Mama, kan?!"

Tidak berapa lama setelah aku membalut duka, ayahku datang ke rumah kebanggan ibuku yang sederhana. Ia menceritakan bahwa pekerjaannya membuat ia tidak dapat pulang. Aku dan kakaku hanya pura-pura tidak tahu dan menyetujui pembicaraan. Lama kelamaan percakapan menyudut ke pernikahan. Aku hanya begitu heran sedangkan kakaku kecewa dan mengamuk besar-besaran. Aku tertegun dengan pikiran melayang. Lagi-lagi ayahku membangun pola pikir untukku. 

"Aku tidak mempercayai pria" 

Wanita itu tidak cantik, tidak pula baik. Aku merasa seperti hidup dalam buku dongeng Bawang Merah Bawang Putih. Bahkan, aku merasa Bawang Putih sangat lemah karena menangis dan bersedih hanya karena diperlakukan seperti itu. Bagaimana bila ia jadi aku? Alih-alih menangis, aku tidak pernah menyetujui dan mengakui bahwa ia adalah penerus cinta pertamaku, Ibu. Aku menjadi tidak pernah nyaman untuk pulang. Aku seperti tidak memiliki tempat tujuan untuk berteduh. Namun dengan kedatangan wanita itu, aku dan kakaku jadi mengerti apa arti persaudaraan.

Lingkungan SMA membuatku menemukan teman-teman baru. Tapi aku belum menemukan sahabat yang dapat mengerti apa arti hidup bagiku dan menghargai pendapatku. Butuh waktu untuk menemukan manusia semacam itu sampai aku naik ke kelas dua dan bermain di warung Ibu Semar. Aku menjadi memiliki motivasi kembali untuk bahagia. Kebanyakan dari mereka berjalan di sepatu yang sama denganku, maka kami hanya menertawakan kebrengsekan yang terjadi. Pulang larut, adalah keadaanku. Karena aku tidak pernah menyukai keadaan rumah. Orang-orang di rumah selalu mengucapkan hal yang tidak mereka mengerti dan mengatakan aku harus pulang. Mereka tidak mengerti bahwa aku sudah pulang. Aku pulang kepada mereka yang mengerti dan menganggapku sebagai adik perempuan mereka, sebagai kakak perempuan mereka, dan sebagai saudara perempuan mereka.

"Aku menemukan keluargaku. Aku pulang kepada mereka. Aku yang apatis, suatu saat akan mereka benci. Tidak apa, karena aku akan selalu menyayanginya. Hanya aku yang tahu seberapa besar aku menyayangi mereka."

Peralihan dari SMA ke perkuliahan, tentu membuatku banyak menghabiskan waktu di rumah. Di tempat aku sangat tidak menyukai bagaimana diriku berperilaku. Harus menjilat dan iya-iya saja. Ingin muntah. Aku yang merasa depresi akan beberapa hal lain yang tidak aku sebutkan di tulisan ini, mengidap insomnia hampir selama 6 bulan. Ragaku dan jiwaku yang lelah seperti mengibarkan bendera putih bentuk menyerah. Hingga obat tidur hanya dapat mengatasinya selama 2 minggu saja. Entah kenapa, tiba-tiba mereka datang layaknya antibiotik yang menyembukan flu berat.

Canon dan Boboh adalah nama mereka. Mereka begitu kurus, galak, dan kotor. Ayahku mendapati mereka tidak di urus oleh sebuah petshop. Ayahku yang kala itu melakukan penggusuran, membawa pulang makhluk-makhluk mungil itu. Beberapa sudah dibawa teman-temannya yang lain. Dengan ragu aku mendekati mereka, menyentuh mereka, dan membelai mereka. Mereka lari, dan menggigit. Aku juga mempertanyakan gumpalan apa yang ada di pasir tempat mereka buang air. Dokter hewan itu tertawa seraya berkata "Itu hanya air seni mereka." Aku memang menyukai hewan dari dulu, aku juga sangat membenci semua orang yang menyianyiakan hewan, atau memburu mereka secara liar. Tapi untuk memiliki sebuah peliharaan belum terbesit di pikiranku.

Hingga beberapa waktu, aku menyerah untuk merawat mereka yang selalu berkelahi dan pipis dimana-mana. Belum lagi di berikan ocehan pedas yang aku tidak butuhkan oleh wanita itu. Aku menyerah karena keadaan pola tidurku, karena wanita itu, dan karena hal lainnya. Air mataku di atas kasur itu menandakan keputus asaan ku yang membulatkan tekad untuk pergi dari sana. Seperti mengerti keadaanku, mereka datang, melompat ke atas kasurku, dan menjilat air mataku. Membelaikan kepalanya ke mataku, hidungku, tanganku, dan mengajakku bermain. Aku tertawa melihat Boboh menyodorkan kunciran untukku karena ia mengajakku bermain. Di rumah yang selalu sepi itu, di rumah dimana aku selalu sendiri kala pagi hingga sore hari, aku memeluk mereka seperti adikku dan anakku sendiri.

"Aku tahu mereka akan selalu menemaniku dan tidak membiarkanku sendiri untuk aku melakukakan hal-hal bodoh lagi."

Keluargaku. Iya, tulisan ini adalah tentang keluargaku yang tidak biasa. Aku menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangiku. Aku memiliki Ibu dari Ibu orang lain. Aku memiliki Ayah dari Ayah orang lain. Mereka menerimaku kapanpun di rumahnya layaknya aku memang seharusnya pulang ke sana.

Untuk keluargaku di luar sana, Terimakasih.
Atas semangat hidup dan kritisnya saran kalian.
Sungguh,
Terimakasih. 

Wednesday, December 30, 2015

Sebuah Analo(ele)gi

Dari pesisir, terdengar suara desir,
Mendayu menyisir pasir,
Menampar karang tanpa akhir,
Walau datang tanpa kurir, dihantam bakau dengan mutakhir.
Sungguh, pantai saat itu sedang luka dan terkilir.

Berlari, menerjang rimba tanpa arah,
Hanya mendung tertatap saat mengadah,
Kilat menyambar penuh amarah, penuh gairah,
Turun hujan, tanah basah,
Meski begitu, pantai tetaplah gelisah,
Sungguh, rimba saat itu sangatlah gundah.

Lesu lunglai, menyusuri jalan setapak,
Aspal diukir pedih oleh retak,
Batang pohon hancur oleh kapak,
Menderu sedih berteriak, tubuhku tergeletak
Mataku menangis namun terbelalak,
Berlari menerjang berteriak serak,
Dengan doa dapat bersua merak,
Sungguh, aku si penyusur aspal seperti tertusuk landak

Ku hantamkan kepalaku berulang kali ke ujung tebing,
Darahku mengalir ke bibirku yang diam tidak bergeming,
Ku ayunkan tanganku ke ujung duri,
Menikmati tusukan yang menembus jari,
Semua yang kulakukan sungguh bodoh,
Kenangan indahku pelan pelan hancur bagai rumah yg kian roboh,
Aku berharap merasakan kembali,
Merasakan sakit ataupun senang hati,
Tanpa harus berpura-pura lagi dan lagi,
Aku hanya ingin pulang ke rumahku lagi,
Aku hanya ingin tawa tulusku lagi,
Sungguh, aku hanya ingin merasakannya lagi.

Ratu lebah itu buta akan kuasa,
Bagaimana tidak, anak lebah hanyalah di anggap budak saja,
Tapi tidak dengan dua anak emasnya,
Namun ketika ratu lengser dari singgasana,
Ia memeluk anak busuknya seraya berkata,
"Jangan tinggalkan bunda"

Omong kosong.
Layaknya akhir yang bahagia.
Ku katakan sekali lagi.
OMONG KOSONG.
Saya membenci semua akhir bahagia.
Hanya memberikan harapan hampa.
O M O N G  K O S O N G.
Sudah sekian lama, hati saya kian terluka,
Saya lebih membuang waktu saya dengan tawa pura-pura,
Namun sangat tulus jika bersama kolega,
Saat kolega telah beranjak?
Saya hanya bisa mengutuk diri saya di tempat saya berpijak.
Sungguh, analogi ini bukanlah tentang alam ataupun setitik lebah.
Telusurilah,
Maka kamu akan menemukan bahwa kamu sedang di hati saya.

Friday, December 18, 2015

IN A GALAXY FAR FAR AWAY (CAUTION! SOPILER!)

assalamualaikum dan GOOOOOOD MOOOORNIIIINGGGGG!

Huah such a lovely saturday's morning! y'kno why? Karena akhirnya pada pukul 9 bisa kembali melihat senyuman mentari yang selama 4 hari ini doi cuma tersipu malu di balik awan~~~

In this part of the post you'll read..... **nadalisteningsection** curhatan saya tentang hari Jumat kemaren tepatnya tanggal 18 Desember 2015 yang berarti adalah..... KEMBALINYA STAR WARS DENGAN SERIES KE 7! KYAAAAA!!!!

I've been dreaming for that moment!

Jadi ceritanya pas keluar teasernya, gue tdnya mau nonton sama 2 temen gue, tapi berhubung ada kendala dan sistem operasional lagi ada gangguan jd gajadi deh (???) so I asked.... actually insisted.... Wirra untuk menemani gue nonton maupun dia gak suka muahahaha. Awalnya udah berencana buat nonton gt kan di imax gancit atau gading but suddenly wild platinum screen appeared!!!! So on Thursday, I was walking around the mall with my man, talking about how excited I am for Star Wars' premiere for public. Idk where that idea came from, I decided to go to Platinum Screen with him. Seeing no Star Wars' poster at the coming soon or now showing part, I was hopeless. And suddenly (again) wild little announcement appeared!

"Untuk pemesanan tiket Star Wars The Force Awakening dapat dilakukan hari ini yang akan di tayangkan pada 18 Desember 2015 - 21 Desember 2015"

CAN YOU IMAGINE HOW EXCITED I WAS?!

Jadi gue jingkrak2 gak jelas, bahkan sampe saat gue mesen tiket. Gue juga bisa liat mba-mba penjaga tiket agak senyum2 ikut merasakan kebahagiaan yg gue rasakan. Pulang-pulang gue pamer dong ke kedua temen omdo gue.... hahahaha dan misi sukses untuk membawa pulang tiket bersama rasa iri mereka **evillaugh**

Saat besoknya dan udah di cinemanya di situlah.... gue.... BAHAGIA TIDAK ADA OBAT+DEDEGAN! BAHKAN dengan liat "a long time ago in a galxy far, far away...." itu udah nyengir! di tambah opening song dengan prolognya "JENG JENG JENG JEEEEEENG JENG! JENG JENG JENG JEEEEEEENG JENG! JEJEJEJEEEEEEEENGGGGG!" it made me chills! Almost crying tho'!   Apalagi joke tentang Millenium Falcon itu seonggok rongsokan gak lepas! Kebodohan C-3P0 gak ilang! DAAAAAAAN TETAP DI SELINGI SAMA AA DARTH VADER KU KYAAAA<3 Ternyata gue dan Kylo Ren punya kesamaan yaitu sama sama menyukai Vader.... secara berlebihan padahal villain wkwkwk dan bayangkan perasaan gue saat melihat muka asli Kylo Ren.... masyallah bikin pengen nge islamin abang Kylo nya! **salahfokus** But it was sad too because Han Solo was gone... ALL HE WANTED ONLY BROUGHT YOU HOME YOU LITTLE SCUM, KYLO! (you're still cute anyway). Padahal gue juga ngarep tuh pas Han Solo pelukan sama Leia mereka bakal bilang scene terkenal mereka "I love you" "I know"-nya. But they didn't. BB-8 juga ternyata cute banget pen gua culik bgt ya ampun hikz pen nonton lagi jdnya :""""(


Euphoria gue nonton bahkan belum ilang sampe detik ini juga! Opening song, suara laser dan saber, tangisan Chewie, bahkan suara R2-D2 yang bangkit lagi!!!!!!! HUAAAAHHHHHHHH!!!




Dan setelah gue baca ulang ternyata the number of capslock words are too damn high ya-____- wkwkwk maklumlah ini lg fangirl-ing. Yaudah segitu aja ceritanya kali aja bakal jd penasaran nonton another betrayal between father and son's movie ini :3



BHAY
XOXO

Monday, July 20, 2015

Seteguk Kopi Menthol

Elena adalah sosok gadis mungil dengan jemari kecil. Merah pipinya bak delima. Pantulan cahaya menyinari mata sipitnya. Bukan hanya paras, Elena menawan menusuk tulang. Berkorban banting tulang untuk anak semata wayangnya, Lilian. Elena memburu uang dengan peluh hasil pekerjaannya. Demi senyuman Lilian, hingga lengan terbakar pun, bukanlah masalah. Bukan sebuah pertanyaan, Viktor mencintai Elena.


Viktor sosok pria bungkuk dengan kaki jenjang bagai egrang. Kacamata sebagai cakrawala untuk menerawang. Tepi rambutnya menari gemulai di balik telinga. Manusia suka menyaksikan Viktor dengan ternganga. Bagaimana bisa manusia dari tanah liat menjadi sebatang Hyperion?


Elena menatap khusyuk secangkir kopi. Kopi pembawa hawa teduh mimpi. Diteguk hikmat kopi aroma mentholnya. Dapat ia rasakan aliran kopi berlomba di kerongkongan. Sambil melihat dengan heran pria diujung sana. Dengan rambut yang menari gemulai di balik telinganya. Namun, enggan berpaling dari kenikmatan seteguk kopi menthol.


“Elena elena, meski begitu aku mencintaimu.”
Suara lembut pria memanggil, terngiang nian di benaknya. Suara yang telah lama ia rindukan semenjak terpejam dan tak kunjung bangun setelah 3 tahun lamanya. Suaminya. Suami yang memutuskan mengakhiri hidupnya, menggantung layaknya kail pancing di samudra luas.


“Elena, aku hidup, aku lelah. Hina rasanya tidak di manusiakan oleh manusia. Perasaan tak diinginkan menjadi pembuluh darahku yang membunuhku pelan-pelan di setiap nafasku.
Elena elena, meski begitu aku mencintaimu.”


Diletakkannya sendok yang mendayuh memutari cangkir. Dengan indah mendayuh membawa arus kopi menthol. Oh, kopi menthol.
Wangi sedap pembangkit rasa rindu dan kenangan. Rasa manis dari ujung bibir suaminya. Hembusan harum menthol dari kedua lubang hidungnya. Menyampaikan surat cinta tanpa kata dari suami kepada Elena.


Kakinya beradu dengan aspal berjalan meninggalkan kedai kopi. Memutuskan untuk pergi dan mengelus kepala Lilian yang akan tertidur pulas di atas paha mungilnya. Namun, seperti biasa. Udara dingin membalut memeluk tubuh Elena. Bulu kuduknya berdiri mematung menakuti hati Elena. Ujung jemarinya gemetar tiada henti membuat gempa heboh sendiri. Tapi, tak ada satu pun suara hatinya untuk berpaling.


“Selalu begini. Hm, kedai kopi.”


Viktor menatap sendu jam di dinding kedai kopi. Merasakan pedihnya waktu berjalan dengan begitu cepat. Bergulir membalap kehidupan yang akan dirindukan setiap insan. Menyakitkan, menyaksikan beberapa manusia lupa cara menikmati waktu layaknya Viktor. Hanya sibuk berlalu lalang di jalanan ibukota lalu pulang berharap beban terbang. Padahal hanya dengan belaian aroma kopi, sudah termasuk menikmati waktu. “Sembari menatap Elena-ku.”


Kring!


Bunyi bel di pintu kedai kopi, mensuarakan ada kedatangan atau kepergian pelanggan. Membangunkan Viktor di ujung bangku kayu tua yang membunyikan suara reyot. Rambut di bahunya melayang-layang sambil meninggalkan kedai kopi. Rambut Elena. Menyusuri jalan jejak yang sama dengan Elena dari belakang, menikmati aroma tubuhnya dari jauh, dan mendengarkan pikiran juga suara hatinya.


Oh, Elena.
Seandainya kamu berpaling.



Dari dulu, Viktor selalu menjamah kehidupan Elena layaknya ia yang menjalankan. Memperhatikan setiap detail bagaimana ia meneguk kopi dengan anggun dan menawan. Menatap Elena yang selalu tertunduk berdoa atas kebahagiaan suaminya dan juga Lilian. Bagaimana ia mengecup sayang kening Lilian. Lebih sering kemana posisi tidur Elena. Mengintai Elena dari atas atap rumah tetangga Lilian menutupi sinar rembulan yang menembus jendela dengan tirai bunga sedikit terbuka milik Elena. Tapi, air mata Viktor, selalu meniti menelusuri wajah Viktor tiap kali ia melihat paras Elena. Menyadarkan ia seberapa penting menikmati waktu.


Elena pergi mencari rejeki untuk buah hati tersayangnya. Elena memutuskan mengambil jejakan langkah untuk berangkat daripada mengendari motor seperti biasa. Lagi, membeli secangkir plastik kopi menthol untuk memataharikan harinya. Tiga lembar sepuluh ribuan di berikan sebagai imbalan kopi menthol nikmat. Berjalan menyusuri jalanan, menatap langit biru luas. Berharap suaminya menatap penuh cinta kepadanya. Diteguklah kopi menthol sambil menertawakan pikiran akan suaminya. Dilihatnya jam di tangannya, detik seakan menjelajah lambat memutari enam puluh sekon. Menyaksikan beberapa orang sibuk menelepon. Entah kerabatnya, ibunya, temannya, atasannya, istrinya, kekasihnya atau selingkuhannya. Menyibakan rambut yang menjutai tidak rapi di sekitar bahunya. Menandakan waktunya potong rambut. Namun tidak ada waktu, Elena harus pergi menggali uang. “Untuk Lilian-ku.”


Hari itu Viktor hanya menunggu di atas lampu merah. Jongkok sambil menunggu kedatangan wanita penggemar kopi menthol yang selalu ia kagumi. Viktor menunggu waktu yang merangkak lambat melewati enam puluh sekon. Selama enam puluh sekon, ia membersihkan sayapnya dan memakai wangi-wangian menthol. Bersiap menemui wanita mentholnya itu. “Kamu datang ya?”


Suara hak berisik membuat gemuruh di jalanan. Apalagi Elena yang sedang terburu-buru walau sambil meneguk hikmat kopi menthol. Namun sebelum menyebrangi corak hitam putih di jalanan, ia merasakan “perasaan kedai kopi” yang hanya ia rasakan sepulang dari kedai kopi. Kali ini dengan bau menthol menyambut Elena di persimpangan.
“Kamu datang ya?”
Benaknya.


Lampu hijau merebut pandangan Elena, menandakan pejalan kaki boleh menyebrang. Diteguknya kopi menthol yang sudah mendiang menemani Elena di perjalanan. Seseorang melambaikan tangan kepada Elena dari balik mobil sedan mewah. Di tatapnya orang itu, bukanlah wajah familiar untuk memori otaknya. Namun, mimik mukanya memberikan rasa kepanikan sesaat kepada Elena karena juga lambaiannya tangannya yang begitu kilat. Elena menoleh terpagu. Menatap pria di atas lampu merah bersayap hitam sambil menangis tersedu menatap Elena. Sesekali ia menutup wajahnya dengan sayap hitam pekatnya. Ia memalingkan wajahnya menatap lurus. Elena menengok apa yang pria itu tatap dengan begitu lurus.


Tidak sempat.
Elena tidak sempat melihatnya.


Yang Elena tahu pria itu membawanya, memompong tubuh mungil Elena dengan kedua tangan raksasanya. Menyaksikan wajah Elena dengan seksama. Lalu mengusapkan ujung jarinya ke pipi merah Elena. “Kamu yang harum menthol itu ya?”


Viktor hanya bisa menjemput wanitanya itu dengan begitu lembut. Menariknya dari sela-sela mulutnya dan menggendongnya. Meninggalkan tubuh fana wanita mungil itu. Tubuh yang sudah hancur lebur tertabrak blangwir. Sudah lama ia menunggu Elena menemaninya di langit. Tapi tak ia sangka, begitu pahit dan pedih melihat tercinta terluka.


“Kamu yang harum menthol itu ya?”
“Iya, Elena. Aku datang. Temani aku melompati awan dan menyusuri langit.”
“Bagaimana dengan Lilian?”
“Oh, Elena. Lilian sudah bersama Kevin, belahan jiwamu. Kevin membawanya bersama saat ia menjutai di langit-langit atap.”
“Lilian tidak ikut, Lilian tidak pernah berhenti bernafas.”
“Ia berhenti, kamu yang tidak berhenti berjuang.”

Saturday, July 11, 2015

Macan Dan Rembulan

Induk macan membawa tiga kehidupan,
Tiga kehidupan anaknya,
Namun,
Mengapa sang induk menyusui hanya dua?
Yang satu hanya disuap dengan lumpur tanah.


Matahari mengiri tiga kehidupan,
Tiga kehidupan yang bergantung padanya,
Lalu,
Bagaimana bisa matahari hanya menyinari dua?
Dengan dalih, "Kamu hanya rembulan!"


Anak macan meraung menangisi kehidupan,
Menangis tanpa air mata,
Meraung tanpa jeritan,
Sambil memakan pahitnya tanah basah,
Menjejakan kaki rapuhnya,
Ke jalan tanpa arah.


Rembulan bersinar redup,
Sinar yang didapat dari sisa pijar matahari,
Bersinar kuning sendu tertutup awan kelabu,
Menutupi keberadaannya,
Di balik selimut gelap motif bintang,
Berharap matahari tidak menyadari,
Rembulan hanya ingin kehangatan matahari.


Anak macan satu melompat, ditangkap.
Anak macan dua berguling, didekap.
Anak macan satu dua penuh cinta.
"Anak macan tiga hanyalah anak hina!"
"Anak macan tiga hanyalah aib belaka!"
"Anak macan tiga hanyalah bahan jenaka!"
Maupun tanpa sadar,
Induk menyebar bau lebih busuk dari mayat.


Venus, Venus,
Paras cantik berhati dengki,
Mulus bersih penuh rasa iri,
tanpa alasan menyimpan benci,
Layaknya Matahari
Mars, Mars,
Kadang hitam, kadang putih,
Kadang datang dengan sejumput kasih,
Lalu membakar semua benih,
Yang tertinggal hanya luka perih.


Anak macan tiga menatap rembulan,
Rembulan berwajah sabit.
Anak macan tiga merintih pada rembulan,
Rembulan berwajah purnama.
Anak macan tiga tertawa bahagia,
Rembulan menunduk tenggelam.
Mengorbankan dirinya,
Untuk membuat matahari kembali terbit.
Oh ya, Matahari,
Matahari yang membunuh,
Tiap detik akan tawa anak macan tiga.



-Rahma Aulia Indroputri, 19 tahun.